Seni Rudat di Belitung Timur

by -
Seni Rudat di Belitung Timur
Penampilan Seni Rudat oleh sanggar tari dari Belitung Timur. Foto: Ist. Disbudpar Beltim.

Seni Rudat Agungkan Pencipta dan Rosul

WIKI.JABEJABE.co – Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Belitung Timur memiliki banyak seni dan budaya khas lokal yang berlatarbelakang seni budaya melayu. Seni budaya khas lokal tersebut seperti rudat, sepen, becampak, atraksi antu bubu, atraksi Lesong Ketintong dan lain sebagainya.

Seni rudat merupakan seni gerak dan vokal diiringi tabuhan ritmis dari waditra sejenis terbang, syair – syair yang terkandung dalam nyanyaiannya bernafaskan keagamaan, yaitu puja-puji yang mengagungkan sang maha pencipta, dan rosul.

Oleh sebab itu seni rudat adalah perpaduan seni gerak dan vokal yang diiringi musik terbangan yang di dalamnya terdapat unsur keagamaan/reliji, seni tari dan seni suara.

Risa Nopianti (2020), dalam artikelnya yang berjudul “Rudat Banten” menuliskan, secara etimologis, istilah rudat berasal dari kata raudhah atau raudatun yang berarti taman bunga. Kata raudhah juga digunakan untuk menyebut taman nabi yang terletak di masjid Nabawi, Madinah. Ada juga yang mengatakan rudat berasal dari kata redda atau rod-da yang artinya menangkis serangan lawan. Dan terakhir, rudat diartikan sebagai alat musiknya itu sendiri.

Menurut naskah Haqul Muluk dan Masahid yang ditulis oleh Syeh Abdullah Bin Abdul Qohar pada tahun 1778 seni rudat biasanya digunakan untuk mengiringi sholawat. Oleh sebab itu, seni Rudat banyak ditampilkan pada upacara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra’ Mi’raj, Khataman Al-Qur’an, gebyar Muharam, Hari Raya Idul Fitri, dan Hari besar Islam lainnya.

Tak hanya itu, seni rudat juga ditampilkan pada acara-acara perayaan pesta perkawinan atau khitanan.

Pencak Silat Sebagai Tarian Rudat

Kesenian rudat di Belitung Timur awalnya berawal dari seorang anak sultan Pontianak yang bernama Lailatur Qadri. Ia merupakan anak semata wayang yang taat beribadah dan memiliki kemampuan pencak silat.

Suatu masa kerajaan sepi dan tidak terdapat aktivitas seni yang meramaikan suasana kesultanan, Lailatur qadri kemudian diperintahkan oleh sultan untuk mengajar pencak silat kepada warga keraton.

Melihat kepiawaian anaknya dalam beladiri, sultan berpikir untuk menjadikan pencak silat tersebut sebagai rudat (tarian), kemudian seni rudat pun menyebar sampai ke Pulau Belitong.

Dilansir dari kemedikbud.go.id, tokoh penari rudat tradisional berpendapat bahwa perkembangan rudat tidak mudah untuk dipelajari, ada kaidah-kaidah yang harus ditaati.

Misalnya, orang tua mengantarkan anaknya kepada guru untuk belajar rudat dan setelah tamatnya harus betamat yaitu melakukan upacara untuk khataman rudat dengan ritual-ritual tertentu. Hal ini berdampak pada rudat menjadi kurang digemari karena dianggap sakral dan dapat berdampak buruk jika murid hanya main-main dalam mempelajarinya.

Pada tahun 2016, rudat telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dari Belitung Timur berdasarkan usulan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung Timur.

Saat ini, seni rudat sering ditampilkan pada event – event kepariwisataan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung Timur dalam menghibur para tetamu dan wisatawan yang hadir.

Bagaimanapun, seni rudat harus dilestarikan keberadaannya/eksistensinya sebagai potensi wisata budaya untuk pengembangan sektor pariwisata, khususnya di Kabupaten Beltim.***

Referensi

Bahrul Ulum. (2020). Rudat Belitong, Warisan Anak Sultan. pariwisataindonesia.id.

Risa Nopianti. (2020). Rudat Banten. kebudayaan.kemdikbud.go.id

Hardinata. (2021). Seni Rudat, di Belitung Timur. disbudpar. belitungtimurkab.go.id.

Hardinata (2021). Seni Rudat Harus Dilestarikan Keberadaannya Sebagai Potensi Wisata Budaya Belitung Timur. belitungtimurkab.go.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.